Jakarta, buanainformasi.com – Munafri Arifuddin – Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu) yang merupakan calo tunggal pada Pilkada Kota Makasar kalah dari kotak kosong.
Tentu hal tersebut menjadi ironi dan pembelajaran bagi parpol di Sulawesi Selatan khususnya di Kota makasar tersendiri, pasangan yang diusung oleh 10 Partai Politik (Parpol) dikalahkan oleh kotak kosong.
Menanggapi kemenangan kotak kosong membuat Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh Angkat bicara dirinya mengatakan, peristiwa ini menjadi tamparan bagi 10 parpol,dan harus berkaca dari kemenangan kotak kosong ini untuk melihat apa yang terjadi pada figur pemimpin apakah calon memang tidak layak untuk diusung atau memang tidak layak menjadi pemimpin yang dikehendaki rakyat, masyarakat sekitar.
“Ini adalah cermin kaca pembesar dalam kancah dunia politik untuk melihat wajah kita, yang harus kembali bertanya dan mengintrofiksi pada diri kita.Saya pikir ini sebuah tamparan,” jelasnya di Kantor DPP Partai NasDem, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/6).
Walaupun Parpol pengusung merasa tertampar dengan peristiwa ini, juga harus dijadikan pendidikan politik yang cukup baik. NasDem juga menjadikan kekalahan ini sebagai pelajaran.
“Sebagai proses pendidikan politik yang patut, bagus. Memang itu pembelajaran politik, siapa pun itu, termasuk keluarga besar NasDem misalnya,” jelasnya.
Namun, kata dia, kemenangan kotak kosong memiliki hikmah untuk Parpol ke depannya.
“Bagaimana kita lawan kotak kosong, kotak kosong yang lebih tinggi. Tetapi di situ hikmahnya adalah suatu proses pembelajaran politik yang baik untuk semua,” terangnya.
Parpol menurutnya harus memiliki konsep pemikiran yang ditawarkan kepada masyarakat dalam rangka memperkuat bangsa. Parpol harus memiliki idealisme sehingga bisa diterima masyarakat.
Inilah juga yang akan dilakukan NasDem ke depan setelah memenangkan Pilkada di 11 provinsi versi hasil hitung cepat lembaga survei.
“Untuk itulah perjuangan dari partai ini terus menerus tetap meyakinkan betapa pentingnya kita hadir dalam institusi Parpol ini untuk bisa mengambil peran yang lebih memberikan keyakinan kepada seluruh masyarakat,” jelasnya.
Parpol, lanjutnya, bukan hanya mengurus soal Pilkada maupun Pemilu serta merancang UU, tapi paling pokok harus hadir memberikan makna dalam kehidupan dan keseharian masyarakat. Parpol juga bisa menjadi sarana bagi masyarakat menyalurkan ide-idenya.
Usai Pilkada serentak, Parpol harus melakukan evaluasi dan introspeksi apakah selama ini ia telah cukup berpengaruh dalam sendi kehidupan masyarakat atau belum. Dengan introspeksi dan melakukan perbaikan, maka seluruh aspek kehidupan akan berjalan baik.
“Tapi kalau parpol itu hanya berdiri sendiri kemudian masyarakat berdiri di tempat lain, tidak ada konektivitas, hubungan emosional yang melekat maka percuma saja produk perundang-undangan yang ada. Karena kepatuhan UU itu tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Partisipasi masyarakat atau partisipasi publik tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Maka hubungan itu adalah hubungan yang semu dan itu yang tidak diharapkan oleh NasDem,” pungkasnya.(*)




