Pesisir Barat, Penacakrawala.com- Mungkin belum banyak orang yang tau tentang sosok Haji Abdul Malik bin Abu Bakar Krui.
Seorang ulama besar yang dihormati di Pulau Kalimantan.
Haji Abdul Malik sendiri lahir di Pekon (Desa) Penengahan Laay Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Semasa hidupnya ia dikenal memiliki pendirian yang kuat terhadap ajaran Agama Islam.
Menurut salah satu cucunya Andi mengatakan, masa muda Haji Abdul Malik ia habiskan untuk menutut ilmu agama di Padang Sumatera Barat.
Setelah lama menuntut ilmu ia kemudian kembali ke kampung halamannya di Pekon Penengahan.
Selang beberapa lama kemudian Haji Abdul Malik memutuskan merantau ke Pulau Kalimantan untuk mengajarkan Agama Islam.
Cara mengajarnya yang toleran terhadap budaya lokal membuat ia mudah diterima oleh berbagai kalangan termasuk mereka yang hidup di kawasan pedalaman.
Sehari-hari ia dipanggil oleh murid-muridnya dengan sebutan sebagai Tuan Guru.
Abdul Malik adalah guru agama yang sangat dihormati dan disegani di Nanga Bunut, Jongkong dan sekitarnya.
Karya tulis milik Haji Abdul Malik bin Abu Bakar Krui juga ditemukan di pedalaman Kalimantan Barat hingga saat ini masih terjaga dengan baik.
Dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pontianak menyebutkan Haji Abdul Malik merupakan penganut tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Sehingga tidak mengherankan jika dalam tulisan naskah yang ditemukan itu sangat kental dengan corak tasawuf Sufi.
Dalam ajarannya menekankan bahwa pengamalan tasawuf haruslah beriringan dengan syariat.
Identitas lengkapnya disebutkan dalam sebuah naskah yang ditulis pada 1333H/1914 M yakni AlHaqq Al-Faqir Al-Hajji Abdul Malik Bin Abu Bakar Krui Penengahan Lahai alladzi tallaqaha min Al-Hajj Muhammad Amin Imam Negeri Kelantan Amin Ya Rabbal Alamin.
Haji Abdul Malik juga dikenal sukses mendidik generasi penerus karena tidak sedikit muridnya menjadi ulama terkemuka di Kalimantan Barat tersebut.
Setelah lama mengajarkan agama di Kalimantan Barat Haji Abdul Malik kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halamannya.
Dengan ditemani Istri dan empat orang anaknya Haji Abdul Malik kemudian berlayar ke Pulau Sumatera.
Sedangkan anak tertuanya tidak ikut dan tetap tinggal di Kalimantan.
Tidak lama setelah tiba di tanah kelahirannya di Pekon Penengahan ulama yang disegani itu kemudian mengembuskan nafas terakhirnya.
Makam Haji Abdul Malik Bin Abu Bakar sendiri berada di kompleks pemakaman umum Keramat Dehari di Pekon Penengahan Laay, Kecamatan Karya Penggawa Kabupaten Pesisir Barat Lampung dan hingga kini makamnya terus diziarahi oleh masyarakat sekitar.(**/red)




