Lampung Utara, buanainformasi.com- Kemarau Panjang Yang Berimbas Kepada Masyarakat Perdesaan khususnya Buruh Tani di kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara, mengeluh karena Harus Bekerja Apa Saat Musim Kemarau Panjang Seperti ini, Minggu (04/10/2015)
Salah satunya Yudi (33), Warga Desa Tamanjaya kecamatan Kotabumi selatan menuturkan beberapa keluhannya bersama rekan-rekan satu desanya.
“Kami bingung sekali mas , karena musim kemarau panjang seperti ini kami harus bekerja apa yang bisa menghasilkan uang untuk menafkahi keluarga kami. Sedangkan menyadap karet, karet gak turun getahnya mas ,Getah karetnya beku di pohon, karena cuacanya sangat panas, mau kerja upahan buruh harian di kebun, sedangkan pemilik kebun lagi ga ada yang mau ngupah mas” tuturnya
Hal senada di sampaikan Endin (50), Kepala Dusun (kadus) Dusun 5 Desa tamanjaya, ia menyampaika Bahwa kemarau yang cukup panjang tahun ini memang berimbas kepada masyarakat kecil, khususnya di wilayah perdesaan karena kehidupan masyarakat di desa rata- rata adalah buruh tani kasar, yang penghasilan hidupnya dari hasil upahan dan menyadap karet, – tetapi, saat musim kemarau panjang seperti ini, mereka bingung apa yang harus di kerjakan karena saat musim kemarau panjang melanda seperti ini semua lahan pertanian kering, ucap Kadus
Endin pun menambahkan, saat ini warga di desa tamanjaya kecamatan kotabumi selatan, banyak menganggur dan bingung untuk mencari peluang usaha yang bisa menghasilkan untuk menyambung hidup , tambahnya
Di lain tempat, zulbakar (45) warga desa setempat saat di jumpai tim buanainformasi.com, mengatakan bahwa dirinya sebagai petani upahan mencangkul lahan pertanian dengan upah satu harinya Rp 40,000. Bapak dua orang anak ini mengeluh karena saat musim kemarau melanda seperti ini penghasilan dirinya dan rekan-rekannya menurun derastis. Pasalnya, saat musim kemarau panjang melanda seperti ini selain cuacanya sangat panas, tuan lahan juga jarang yang mau memperkerjakan lahan pertanian milik mereka.Sedangkan dengan upah buruh harian mencangkul lahan senilai Rp 40,000,- perhari itu bukan penghasilan bersih yang mereka terima karena tidak tanggung makan.
“upah Rp 40,000,- /hari itulah yang kami atur untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk keperluan anak sekolah, itu pun terkadang tidak cukup ,karena kami kerja upahan tidak setiap hari, kalau ada yang memanggil kami dan memerlukan tenaga kami untuk kerja harian baru kami bekerja”cetusnya
Zulbakar beserta masyarakat lainnya berharap kepada pemerintah kabupaten lampung utara, supaya pemerintah kabupaten lampung utara dapat memperhatikan nasib rakyat kecil di perdesaan seperti mereka. (Sis)




