Kepsek SMA Di Kedondong Batah Isu Terkait Penganiyaan Murid

0
44

Pesawaran, Penacakrawala.id – Seorang Kepala Sekolah sebuah SMA di Kedondong, Kabupaten Pesawaran, BFA, membantah melakukan penganiayaan terhadap siswanya pada bulan lalu.

“Jadi pada 29 Agustus ada kejadian dugaan pengeroyokan oleh 3 siswa kelas XI kepada siswa kelas X, kejadian tersebut tepat di depan ruang guru,” kata kepala sekolah BFA, Kamis (26/9/2024) saat ditemui di Bandar Lampung.

Ia mengatakan, siswanya itu memang cekcok dan sebagai guru pasti melarang adanya keributan tersebut.

“Singkat cerita satu siswa MRN diduga dianiaya oleh tiga orang sesama siswa,” kata dia.

Korban MRN tersebut mengalami luka pada bagian kepalanya akibat hantaman anak kunci motor.

Korban dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.

“Memang dugaan awalnya ada 6 pelaku dan setelah kami tarik ke ruang waka kepsek, dari 6 menjadi 3 orang diduga pelaku,” katanya.

Pihaknya melakukan interogasi, karena chaos guru melakukan tindakan terukur hanya menepuk bagian dada siswanya.

“Tetapi bahasa orang tua pelaku itu kami dari sekolah menempeleng atau menampar siswa tersebut,” kata Bayu.

Dengan kejadian tersebut para orang tua dipanggil untuk berembuk.

“Kemudian pada 5 September kami dewan guru rapat dengan hasil kalau ketiga siswa tersebut yakni Au, Mr, dan Ri di keluarkan dari sekolah kami,” kata BFA.

Ketiga siswa tersebut poinnya sudah 100 poin karena sudah adanya tindakan pemukulan dan dikeluarkan dari sekolah.

“Pihak dari keluarga ketiga siswa tersebut mengaku tidak terima dah pada 9 September 2024 ada rapat dewan guru,” kata dia.

Kemudian ada berita acaranya dan notulen, serta juga dokumen yang dihadiri oleh pihak orang tua dan Polsek Kedondong.

Ketiganya mengaku menerima dikeluarkan dari sekolah.

“Kemungkinan ada yang tidak terima sehingga adanya laporan kepolisian. Melaporkan dan menuduh kami melakukan tindakan keras kepada siswanya,” kata dia.

Kemudian pihak sekolah yang mengeluarkan ketiga siswa itu sudah sesuai prosedurnya.

“Kami guru melakukan tindakan terukur dan terdidik, hanya menepuk bukan menempeleng, menampar atau memukul,” kata dia.

Para siswa itu ribut awalnya hanya bercanda lempar-lemparan dan korban merasa terlempar.

Saling tantang hingga cek-cok hingga ribut, orang tua korban itu singel parents.

Orang tua korban sampai saat ini diteror untuk membuat surat damai hal tersebut menurutnya untuk menyerang sekolah.(**/red)